Kebanyakan Orangutan Hidup di Luar Kawasan Konservasi

Kompas - Selasa, 10 Februari 2009

JAKARTA, SELASA — Sekitar 70 persen satwa liar dilindungi, seperti Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), justru hidup di hutan di luar kawasan konservasi. Padahal, seluruh hutan Kalimantan sudah terbagi-bagi dalam konsesi-konsesi.

“Kawasan konservasi yang masih banyak memiliki habitat orangutan Kalimantan hanya di Tanjung Puting dan Gunung Palung, habitat orangutan lainnya justru bukan di kawasan konservasi,” kata Pakar Satwa dari LIPI Jito Sugardjito di Jakarta, Selasa (10/2).

Ia mengkhawatirkan satwa yang jumlahnya tinggal sekitar 50.000 ekor ini akan semakin cepat punah jika para pemilik konsesi hutan ini memanfaatkan hutannya tanpa pemahaman dan kepedulian terhadap satwa liar.

Spesialis Kebijakan Hutan Orangutan Conservation Service Program (OCSP), Arbi Valentinus, mengingatkan tentang adanya salah persepsi soal perlindungan orangutan yang harus diluruskan.

“Melindungi orangutan berarti juga melindungi habitatnya, termasuk yang ada di luar kawasan konservasi sehingga semua pihak termasuk pemilik konsesi hutan juga memiliki tanggung jawab melindungi orangutan yang ada di wilayahnya,” katanya.

Ia menegaskan, orangutan terancam punah bukan saja oleh perburuan ilegal, melainkan akibat kehilangan habitatnya yang disebabkan kebakaran hutan, illegal logging dan konversi lahan hutan.

Seluas 1,87 juta ha hutan Indonesia hilang setiap tahun akibat perluasan sektor perkebunan yang menghancurkan hutan alam sehingga hilanglah habitat orangutan dan merosot pula jumlahnya. Demikian dikatakannya.

Ia menilai perlunya segera memasukkan rencana aksi konservasi orangutan ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) karena pada 2010 sudah harus selesai diajukan ke pusat.

Kerja sama dengan perusahaan-perusahaan pemegang konsesi hutan, lanjut dia, juga perlu dilakukan untuk melaksanakan implementasi hutan bernilai konservasi tinggi di hutan produksi dan hutan konversi yang jadi habitat orangutan.

Arbi menambahkan, hukum juga harus ditegakkan dengan merevisi UU no 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya, terutama dalam hal perlindungan habitat, kewenangan penegakan hukum, serta pengaturan sanksi pidana.

“Belum pernah ada kasus orangutan diproses pengadilan padahal banyak penyitaan orangutan di lapangan,” katanya.

Ada empat spesies kera besar di dunia dan sangat dilindungi, tiga di antaranya ada di Afrika, yakni gorila, simpanse, dan bonobo serta satu spesies yang hanya tersisa di Indonesia dan Malaysia, yakni orangutan.

Populasi orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) saat ini tinggal 50.000 ekor dan orangutan Sumatera (Pongo abelii) lebih kritis lagi dengan jumlah tinggal 6.650 ekor.

Bekantan KBS Diisolasi untuk Dikirim ke Jepang

Kompas - Selasa, 10 Februari 2009

SURABAYA, SELASA — Kebun Binatang Surabaya (KBS) mulai mengarantina lima bekantan yang akan dikirim ke Kebun Binatang Yokohama, Jepang, dengan status dipinjamkan.

“Saat ini kelima bekantan itu sudah dikandangkan sendiri atau diisolasi dan terus dalam pengawasan intensif tim dokter di KBS,” kata Kasi Humas KBS Agus Supangkat di Surabaya, Selasa (10/2).

Ia mengemukakan, pihaknya berharap agar, saat dikirim, kelima satwa langka itu betul-betul dalam kondisi sehat sehingga tidak menimbulkan masalah di Negeri Sakura tersebut.

Meskipun di KBS sudah diisolasi, katanya, kelima satwa asal Pulau Kaget, Kalimantan, itu masih harus menjalani proses karantina kembali di Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor. TSI Bogor memiliki fasilitas karantina yang diakui oleh Jepang.

Hal itu diakui oleh Koordinator Bidang Humas dan Hubungan Antarlembaga Perhimpunan Kebun Binatang Se-Indonesia (PKBSI) Singky Soewadji yang menyebutkan bahwa Jepang sangat ketat dalam menerima kiriman satwa dari luar negeri.

“Fasilitas karantina di TSI Bogor itu adalah satu-satunya di Indonesia yang diakui oleh Jepang. Jepang itu sangat ketat. Ada kutu saja satwa itu tidak akan diterima. Jadi, saat dikirim betul-betul bersih dan sehat,” katanya.

Menurut dia, paling lambat, kelima bekantan itu dikirim ke TSI Bogor, 15 Februari 2009. Di TSI, satwa itu akan menjalani karantina sekitar satu bulan.

Ia mengemukakan, pengiriman bekantan itu dengan sistem pinjam, bukan tukar-menukar. Dengan cara itu, dua bekantan jantan dan tiga betina itu sewaktu-waktu bisa diminta kembali dan anak hasil perkawinan mereka akan dibagi dua, antara Indonesia dan Jepang.

“Dengan cara itu, kita tidak dirugikan karena Indonesia masih akan mendapatkan anak-anak bekantan, termasuk induknya,” kata mantan atlet berkuda itu.

Ia mengemukakan, di KBS saat ini ada sekitar 50 ekor bekantan, sedangkan di habitatnya, yakni Pulau Kaget, sudah sangat langka, apalagi di pulau itu pernah terjadi kebakaran.

Kaltim Bentuk Forum Konservasi Orangutan

Kompas - Kamis, 29 Januari 2009

SAMARINDA, KAMIS — Forum Konservasi Orangutan Kalimantan Timur dibentuk dalam pertemuan multipihak di Samarinda, Kamis (29/1). Forum diharapkan menjadi wadah komunikasi intensif pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, dan pengusaha yang ingin menyelamatkan orangutan (Pongo pygmaeus) dari kepunahan.

Sebanyak 40 orang menghadiri pertemuan di lantai 3 Kantor Gubernur Kaltim itu. Guru besar sosial kehutanan pada Universitas Mulawarman Prof Mustofa Agung Sarjono menjadi fasilitator pertemuan hampir empat jam itu.

Dalam pertemuan itu, para pihak menyadari masih sendiri-sendiri melaksanakan penyelamatan orangutan. Akibatnya, tidak terdata jumlah dan kondisi populasi orangutan dan habitatnya yang terkini.

Selain itu, sulit dinilai apakah program para pihak sudah sesuai dengan Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan Indonesia 2007-2017 dari Departemen Kehutanan. “Forum akan menjawab seberapa jauh para pihak berjalan sesuai dengan rencana aksi itu,” kata Sarjono.

“Lewat forum diharapkan pula timbul kesadaran kita untuk menyelamatkan satwa-satwa asli yang juga terancam punah, seperti bekantan ( Nasalis larvatus) dan pesut mahakam (Orcaella brevirostris),” kata Kepala Pusat Penelitian Hutan Tropis Universitas Mulawarman Dr Chandradewana Boer.

Pertemuan itu menyepakati bahwa forum akan diketuai oleh Asisten Ekonomi Pembangunan dan Kesejahteraan Sosial Sekretariat Provinsi Kaltim. Gubernur, Kepala Bappeda, Kepala Bapedalda, Kepala Dinas Kehutanan Kaltim, dan unsur Departemen Kehutanan diharapkan menjadi dewan pembina.

Sementara ini terdapat 29 lembaga yang bersedia bergabung dalam forum. Unsur pemerintah yakni Dinas Perkebunan, Dinas Pertambangan dan Energi Kaltim, Balai Taman Nasional Kutai, dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kaltim. Unsur usaha yakni Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Kaltim, perusahaan pertambangan batu bara Indominco Mandiri dan Kaltim Prima Coal. Unsur LSM dan perguruan tinggi seperti Universitas Mulawarman, WWF, TNC, BOSF, OCSP, Bebsic, Bioma, dan Profauna.

Taman Safari Sambut Kelahiran Bayi Orangutan

Kompas - Kamis, 25 Desember 2008

Sumber Foto: Kompas/Rony Ariyanto

PASURUAN, KAMIS - Bertepatan dengan Hari Natal, seekor orangutan Kalimantan (Pogo Pygmaeus pygmaeus) lahir di Taman Safari Indonesia II Prigen Jawa Timur, Kamis (25/12).

Bayi orangutan jenis betina yang dilahirkan dari pasangan induk Sinta (11) dan pejantan Benny (19) diberi nama Natalia.

Drh. Nanang yang mengawasi kelahiran satwa langka dan dilindungi mengatakan, proses kelahiran bayi orangutan dari pasangan Sinta dan Benny ini, berjalan normal. Ia menjelaskan, proses kelahirannya berlangsung Kamis (25/12) sekitar pukul 02.00 WIB, dini hari di kandang beranak yang telah dipersiapkan.

Bayi orangutan seberat sekitar 1.000 gram itu terlihat sehat. Induknya juga terlihat menyayangi, dan setiap saat selalu menjilati untuk mengeringkan rambut bayinya. “Yang melegakan, sekitar satu jam kemudian bayi orangutan berhasil menyusu induknya,” kata Drh. Nanang.

Ia mengungkapkan, hal tersebut menandakan si induk telah memiliki “mothering ability” (naluri keindukan) yang bagus. Kini, induk orangutan beserta bayinya masih dalam perawatan ketat di kandang karantina Taman Safari Indonesia II Prigen. Pascakelahiran, induk orangutan harus mendapat tambahan vitamin untuk memperlancar proses menyusui untuk menunjang kesehatan bayinya.

Direktur Taman Safari Indonesia, Tony Sumampau mengungkapkan, kelahiran seekor orangutan tersebaut membanggakan bagi TSI. Hal tersebut menunjukkan keberhasilan TSI sebagai lembaga konservasi eksitu dalam menangkarkan sarwa langka dan dilindungi.

Isu Konservasi Satwa Liar belum Dapat Perhatian Pers

Media Indonesia - Rabu, 24 Desember 2008

JAKARTA–MI: Keberadaan satwa-satwa liar Indonesia semakin memprihatinkan, bahkan tidak sedikit satwa yang menuju kepunahan. Isu konservasi satwa liar juga masih belum mendapat perhatian banyak pihak, termasuk pers.

Hal ini mengemuka dalam diskusi akhir tahun yang bertajuk Kebijakan Penegakan Hukum atas Kejahatan Satwa Liar Dilindungi di Indonesia yang diselenggarakan Aliansi Jurnalisme Indonesia (AJI) bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS), Selasa (23/12).

Ketua AJI Nezar Patria menyoroti isu konservasi satwa liar dari sudut pandang media. “Sangat disayangkan, isu konservasi satwa liar kurang menarik bagi kalangan media. Bahkan sangat sedikit yang menilainya isu ini mempunyai newsworthy,” ujar Nezar.

Ia mengharapkan di masa mendatang, AJI dan WCS bekerja sama dalam meningkatkan liputan tentang isu konservasi satwa liar, sehingga dapat mendapat perhatian di ruang publik.

Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan, Darori, yang hadir pada acara tersebut mengatakan bahwa semakin hari, species satwa liar semakin menuju kepunahan. Penyebab utamanya adalah pembukaan lahan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit yang semakin merajalela di Kalimantan.

Aktivis dari LSM Yayasan Titian Yuyun Kurniawan mengungkapkan, berdasar penelitian di lapangan, dua juta hektar hutan berkurang setiap tahunnya di Kalimantan. Hal itu baik karena pembukaan perkebunan kelapa sawit yang telah mengantongi izin pemerintah, maupun yang liar.

Selain pembukaan perkebunan kelapa sawit, populasi satwa liar, khususnya orang utan masih terancam oleh penyelundupan yang dilakukan, dari Kalimantan menuju pasar dalam dan luar negeri. Penyelundupan yang semakin marak dikarenakan tingginya permintaan pasar juga didominasi dengan modus-modus baru yang semakin sulit dilacak.

“Tak hanya orang utan, gading gajah, dan trenggiling, burung hantu pun memiliki permintaan yang tinggi semenjak populernya film Harry Potter di masyarakat,” tambah Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati, Direktorat Jenderal PHKA, Tonny R. Soehartono.

Dalam diskusi tersebut, juga diluncurkan situs www.mediakonservasi.org, media center virtual untuk isu konservasi. Melalui situs tersebut, masyarakat luas dapat mengakses berbagai informasi teraktual mengenai isu lingkungan hidup yang terus diperbarui oleh berbagai LSM-LSM serta media.

Isu konservasi satwa liar ini semakin menjadi perhatian berbagai LSM antara lain dikarenakan kejahatan terhadap satwa liar yang dilindungi (wildlife crime) adalah kejahatan kehutanan terbesar ketiga di dunia. Nilai perdagangannya mencapapi US$180 juta per tahun secara global, dan Rp9 triliun per tahun secara nasional. (*/OL-02) (MARIO ARISTO)

Penyelundupan 100 Ekor Kera Digagalkan

Antara - Selasa, 16 Desember 2008

Cilegon, (ANTARA News) - Sebanyak 100 ekor kera jenis Macaca (monyet hitam pantat merah) yang akan dikirim ke Bogor, Jawa Barat dari Kampung Bungus, Padang, Sumatera Barat digagalkan Balai Karantina Merak, Cilegon, Banten, Selasa.

Penangkapan 100 ekor kera yang diangkut dalam satu mobil truk tersebut dilakukan, karena pengiriman tanpa dilengkapi dengan dokumen pengiriman resmi dan diduga hewan itu bisa menyebarkan rabies dari daerah endemis rabies, yakni Pulau Sumatera ke Pulau Jawa.

Kepala Balai Karantina Merak, Agus Sunanto mengatakan, sesuai dengan aturan dari Menteri Pertanian, ada larangan adanya pengiriman hewan yang dikhwatirkan bisa menyebarkan rabies dari daerah endemis.

“Dalam peraturan yang dikeluarkan Menteri Pertanian No.566/2004 tentang DKI, Banten, Jawa Barat bebas dari rabies. Sehingga tidak dibolehkan adanya pengiriman hewan dari daerah endemis,” katanya.

Ia mengatakan, kera yang rata-rata berumur satu sampai dua tahun itu, berasal dari Padang. Kera-kera itu sudah kembali dikirimkan ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Lampung untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Penangkapan itu berawal adanya laporan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam, Lampung kepada Balai Karantina Merak, tentang adanya pengiriman kera ke pulau Jawa melalui Pelabuhan Merak. Berdasarkan laporan tersebut, Balai karantina Merak dengan Kepolisian Pelaksana Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Merak langsung melakukan penangkapan.

Seratus ekor kera tersebut, diangkut dengan menggunakan truk fuso nomor polisi BA 9152 SL rencananya akan dikirim ke Bio Medika, Bogor, dengan pemilik atas nama Bambang A Sulistio, Jalan Sukahati, Cibinong, Bogor.(*) 

Perubahan Fungsi Hutan Ancam Populasi Orangutan

Antara - Jumat, 28 Nopember 2008

Medan (ANTARA News) - Perubahan fungsi hutan menjadi lahan perkebunan maupun pertanian yang terus meningkat di kawasan Sumatera telah mengancam populasi orangutan (Pongo abelii).

Co-Manager Field and Research Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) Asril di Medan Jumat mengatakan, perubahan habitat sangat mempengaruhi kemampuan orangutan dalam melangsungkan hidupnya.

Perubahan habitat tersebut dapat berupa kehilangan, kerusakan, dan fragmentasi habitat akibat konversi lahan hutan menjadi perkebunan skala besar, pengusahaan hutan yang salah, perambahan, illegal logging, dan kebakaran.

Fragmentasi habitat merupakan proses yang menyebabkan kawasan hutan primer yang semula saling bersambungan berubah menjadi “pulau-pulau kecil yang terpencar.

“Kondisi ini menyebabkan populasi orangutan atau satwa lainnya terisolasi atau terpecah menjadi kelompok kecil yang dapat menyebabkan kepunahan,” katanya.

Berdasarkan hasil Workshop Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) orangutan tahun 2004, populasi orangutan di alam diperkirakan hanya tinggal 58.300 individu.

51.000 individu berada di Kalimantan dan 7.300 individu terdapat di Sumatera dengan habitat seluas kira-kira 9.000 km persegi.

Hampir sebagian besar populasi orangutan tidak berada di dalam area konservasi sehingga menimbulkan masalah yang sangat serius dalam manajemen konservasi orangutan.
(*)

Inilah Sosok Monyet Terkecil yang Menghebohkan

Kompas - Rabu, 26 November 2008

JAKARTA, RABU - Minggu lalu dunia dihebohkan dengan penemuan kembali monyet terkecil di dunia yang sudah lebih dari 80 tahun tidak pernah terlihat. Tarsius pumilus, demikian nama ilmiah spesies tersebut ditemukan di Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah, oleh Sharon Gursky-Doyen dari antropologi Texas A&M University, AS.

Penemuan ini sangat penting karena spesies tersebut baru empat kali ditemukan sejak dideskripsikan tahun 1921. Sebelum Gursky-Doyen menemukannya, spesies tersebut pernah tertangkap tahun 2000. Adalah tim yang dipimpin Dr. Ibnu Maryanto, peneliti mamalia dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang tanpa sengaja menemukannya dalam jerat tikus yang dipasangnya di lantai hutan Lore Lindu.

“Jeratnya kan kita beri ikan asin. Mungkin ikan asin itu dikerumuni semut dan tarsius masuk,” ujar Ibnu saat ditemui di sela-sela open house Museum Zoologicum Bogoriense (MZB), Cibinong, Bogor, Rabu (26/11). Sayang, tarsius tersebut mati karena jerat tersebut.

Ibnu mengaku kaget setelah mengetahui yang terjerat adalah jenis tarsius paling kecil. Ia kemudian menjadikannya spesimen penelitian yang kini diawetkan di MZB. Penemuan yang dipublikasikan dalam jurnal internasional menarik minat sejumlah peneliti dunia untuk “memburu” spesies langka tersebut.

Menurut buku “Mamalia Dilindungi Perundang-undangan Indonesia” terbitan LIPI Press tahun 2008, Tarsius pumilus yang juga disebut tarsius kerdil, krabuku kecil, atau ngasi dan tangkasi oleh penduduk lokal merupakan jenis tarsius paling kecil. Ukuran tubuhnya saat dewasa antara 93-98 milimeter dan berat 57 gram. Panjang ekornya antara 197-205 milimeter.

Spesies ini memiliki kemiripan dengan Tarsius spectrum yang hidup menyebar di hampir semua wilayah Sulawesi. Namun, Tarsius pumilus tidak memiliki bintik yang pucat di samping telinga seperti Tarsius spectrum. Rambut ekornya juga lebih lebat dibandingkan tarsius pada umumnya.

Warna tubuhnya antara abu-abu hingga coklat dengan rambut muka merah kecoklatan. Jika primata lain umumnya memiliki kuku, tarsius memiliki cakar yang sangat berguna untuk memanjat. Ekor bersisik dengan rambut antara 60-70 persen. Kaki depan maupun belakang terkesan panjang.

Tarius kerdil hidup di hutan primer dengan tipe hutan berlumut pada ketinggian antara 1800-2200 meter. Saat ditemukan di Roreketimbu, hewan tersebut mendiami lubang-lubang perakaran tanah.

Selain Tarsius pumilus, setidaknya ada 6 spesies sejenis lainnya yang hidup di Indonesia dan 1 di Filipina. Bahkan, Ibnu yakin masih ada spesies baru Tarsius yang belum pernah diidentifikasi. Dalam ekspedisi berikutnya, ia berharap dapat menemukannya di daerah-daerah yang selama ini terisolasi dari daratan Sulawesi terutama pulau-pulau kecil sekitarnya.

Monyet Terkecil Masih Hidup di Hutan Sulteng

Kompas - Kamis, 20 November 2008

WASHINGTON, RABU - Beratnya hanya sekitar 50 gram sehingga tarsius kerdil (Tarsius pumilus) sering dikenal sebagai monyet terkecil dunia meski sesungguhnya bukan termasuk monyet. Makhluk langka dan eksotis yang diduga hanya tinggal tersisa di hutan-hutan Sulawesi Utara ternyata masih hidup di Sulawesi Tengah.

“Ada banyak lusinan ekspedisi untuk mencarinya, semuanya gagal. Saya merasa harus pergi dan berusaha melihat langsung apakah mereka benar-benar ada atau telah punah,” ujar Sharon Gursky-Doyen, profesor antropologi dari Texas A&M University, AS.

Usaha Gursky-Doyen membuahkan hasil setelah proposal ekspedisinya didanai National Geographic. Setelah menunggu selama dua bulan, para ilmuwan berhasil menjerat empat ekor tarsius di rimbunnya hutan Gunung Rore Katimbo yang termasuk dalam Taman Nasional Lore Lindu, Sulawesi Tengah. Tarsius tak ditemukan lagi di kawasan tersebut selama 80 tahun terakhir.

Satu di antaranya berhasil lolos dari jeratan. Sementara ketiganya kembali dilepaskan setelah dikalungi pemancar radio agar dapat dilacak pergerakannya. Tak mudah menangkap primata yang besarnya tak lebih dari segenggam tangan sehingga saat memasang alat pelacak tersebut, Gursky-Doyen sempat digigit salah satu tarsius.

Meski ukuran tubuhnya kecil, tarsius memiliki mata besar. Sosoknya dipakai sebagai salah satu karakter dalam film Gremlin tahun 1984. Hewan tersebut termasuk jenis nokturnal atau aktif malam hari dan memangsa serangga.

Tarsius kerdil tak lagi ditemukan di Sulteng sejak tahun 1921 meski masih ada sekitar 1800-an di Sulawesi Utara. Pada tahun 2000, seorang ilmuwan Indonesia tanpa sengaja menemukannya dalam keadaan mati terjerat dalam jebakan tikus. Namun, sejak saat itu tidak pernah ada yang melihatnya hidup-hidup di kawasan tersebut.

Tim yang dipimpin Gursky-Doyen melihat tarsius pertama kali pada Agustus 2008 pada ketinggian 2000 meter. Habitat yang membuatnya bertahan saat ini masih berupa hutan lebat yang berkabut dan sangat dingin.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan kembali interaksi antara penduduk dan hewan yang hidup di sekitar Lore Lindu,” ujar Gursky-Doyen. Hal tersebut merupakan cara mempertahankan eksistensi satwa langka yang unik tersebut.

Orangutan di TN Danau Sentarum Tinggal 500 Ekor

Media Indonesia - Minggu, 16 Nopember 2008

PONTIANAK–MI: Jumlah orangutan di Taman Nasional Danau Sentarum (TDNS) Kabupaten Kapuas Hulu menurun drastis dibanding 10 tahun lalu. Saat ini, jumlah orangutan di kawasan itu diperkirakan hanya sekitar 500 ekor.

Hal ini diungkapkan Species Officer WWF-Indonesia untuk wilayah Putussibau, Albertus Tjiu, Minggu (16/11). Menurutnya, perubahan kondisi alam di seputar wilayah TNDS diduga menjadi pemicu utama menurunnya populasi orangutan di kawasan itu.

Ia menambahkan, untuk mengetahui data terbaru jumlah orangutan di TNDS dibutuhkan survei dan pemantauan secara insentif. Ia mengatakan, TNDS memiliki tingkat kerapatan yang tinggi untuk hunian orangutan karena dengan luas 130 ribu hektare namun seluruh kawasan cocok bagi primata itu.

Sementara Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), dengan luas 800 ribu hektare namun yang cocok untuk orangutan hanya separuhnya. Jumlah orangutan di TNBK berkisar 1.030 ekor. Albertus mengatakan, mereka juga menemukan adanya orangutan yang dipelihara penduduk sekitar kawasan TNDS. “Awalnya dipelihara, tetapi sewaktu kami berkunjung ke tempat yang sama beberapa waktu kemudian, orangutan itu sudah dipindahtangankan,” kata dia.

Saat ini, di sekitar kawasan TNDS menjadi tempat untuk perkebunan kelapa sawit oleh pemerintah daerah setempat.  Harga satu ekor bayi orangutan untuk di Kabupaten Kapuas Hulu berkisar Rp500 ribu hingga Rp1 juta. Sedangkan di Kabupaten Ketapang, harganya lebih murah yakni Rp300 ribu per ekor.

Albertus mengatakan, masyarakat hanya memelihara orangutan yang masih bayi atau anak-anak. “Kalau sudah dewasa, orangutan sudah sulit untuk dipelihara karena ukuran badannya semakin besar,” kata dia.

Untuk mendapat satu ekor bayi orangutan, maka induknya harus dibunuh terlebih dahulu. “Jadi kalau ada satu ekor bayi orangutan di masyarakat maka dapat dipastikan induknya telah mati atau dibunuh terlebih dahulu,” kata dia. (Ant/OL-06)